7 Pesona Teratas Ho Chi Minh City

Minggu, 02 Januari 2011

Unearthing Asia
Pusat dari kekuatan ekonomi yang sedang naik daun di Asia Tenggara, Ho Chi Minh City adalah salah satu kota paling menarik di planet ini, tempat bercampurnya budaya Prancis dengan Timur, dan tempat Perang Vietnam masih dikenang seperti baru terjadi kemarin. Dan dengan kemunculan gedung pencakar langit, tempat-tempat menonjol serta dunia mode, inilah waktu paling tepat untuk berkunjung yang masih sangat hidup di tengah resesi global.


Keaslian Vietnam

Masakan Vietnam mulai populer di seluruh dunia, tetapi belum ada tempat yang lebih baik daripada Ibu Kota negara itu untuk menyicipinya. Bergabunglah dengan Bill Clinton untuk makan pho di Pho2000 dekat Ben Thanh Market, yang dengan bangga menyatakan pho-nya layak untuk presiden, lengkap dengan berbagai foto ketika Presiden Bill Clinton menikmati semangkok pho di restoran ikonik itu. Menu di restoran itu sangat banyak dan bervariasi, dan penuh oleh penduduk lokal serta turis. Bagi mereka yang mencari makanan fusion, pergilah ke Xu Bar, bukan hanya menjadi unggulan kehidupan malam di kota itu, tetapi juga merupakan tempat Chef Nyuyen
berupaya untuk menghidupkan lagi masakan tradisional Vietnam.


Kopi dan Café

Ho Chi Minh City terang oleh berbagai lampu di malam hari, memberikan atmosfer santai yang mendukung kemunculan kafe-kafe di sepanjang jalan. Vietnam adalah salah satu produsen kopi unggulan di dunia, pecinta kafein akan menemukan diri mereka di surga
aroma, menyicipi berbagai macam kopi lokal. Cara ampuh untuk menyegarkan diri dan bersantai, pilihlah kafe secara acak di sudut jalan dan pesanlah secangkir kopi lokal. Duduk dan menikmati sambil Anda bermalas-malas diri melihat pejalan kaki yang lewat.




Berpetualang di Kota

Selain berbagai kafe untuk bersantai dan menghabiskan waktu, Ho Chi Minh juga memiliki bar modern yang menjadi favorit bagi para penduduk lokal dan ekspatriat. Q Bar, Saigon Saigon Bar, Xu Bar, Lush dan Velvet hanyalah beberapa tempat dari daftar panjang yang sering digunakan untuk nongkrong dan pesta, masing-masing memiliki ciri khas dan daya tariknya.

Penanda Kota

Cukup mudah untuk bepergian di kota metropolitan Ho Chi Minh dengan berjalan kaki, terutama karena tempat-tempat menarik terletak di Distrik Satu. Mulailah dengan Katedral Notre Dame, sebuah bangunan bata merah yang dihiasi kaca patri, kemudian langkahkan kaki anda ke Saigon Central Post Office, sebuah bangunan kolonial Prancis dengan interior klasik.

Tempat itu juga mengoperasikan semua layanan pos dari kota dan tempat terbaik untuk membeli kartu telepon. The Opera House adalah sebuah tempat yang menggambarkan kota, menampilkan perpaduan opera barat dan pertunjukan tradisional Vietnam. Sementara itu, Reunification Palace adalah rumah mantan pemimpin Viet Cong yang namanya diadopsi menjadi nama kota itu, sebuah bangunan kolonial yang menghadap ke pusat kota.


Geng Bermotor

Setelah menjelajahi tempat paling ikonik di Distrik Satu dengan berjalan kaki, sewalah sepeda motor untuk menyusuri jalanan dan merasakan moda transportasi yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Vietnam. Para penglaju Vietnam bepergian menggunakan motor, dan meskipun moda ini bukan yang paling aman, tapi merupakan kendaraan paling autentik di Vietnam.


Sisa-sisa Perang

Salah satu atraksi turis yang paling digemari di Vietnam, Chu Chi Tunnels adalah jaringan bawah tanah yang dibangun selama perang Vietnam. Memiliki panjang sekitar 121 km, pengunjung bisa mengambil tur dan melihat sendiri kondisi saat Vietcong mengobarkan perang berdarah terhadap AS. Museum Sisa Perang (War Remnant Museum) atau dikenal juga sebagai Museum Kejahatan Amerika adalah tujuan turis lain yang layak dikunjungi. Meski sangat bias dan satu sisi, tapi tempat ini memberikan wawasan penting tentang reaksi Vietcong terhadap perang.



Belanja

Selain makan, sebagian besar pengunjung kota nomor satu Vietnam ini menghabiskan sebagian besar waktu mereka dengan berbelanja. Ben Thanh Market merupakan pasar utama di Ho Chi Minh dan tempat untuk mencari souvenir. Ada banyak pilihan t-shirt dengan tulisan seperti "Good Morning Vietnam" dan "Miss Saigon" sampai bordiran dan ornamen kayu berpernis, dan untuk mereka yang suka kopi, ada beberapa biji kopi terbaik di wilayah ini. Para wanita akan ingin mencoba Ao Dai, baju nasional Vietnam, yang terbaik di wilayah ini, menggabungkan celana dan gaun.

Trik Meredam Api Cemburu

 
VIVAnews - Sering merasa cemburu dan curiga, karena tidak percaya pada pasangan? Jika hari-hari diliputi perasaan cemas atau takut akan kehilangan si dia tanpa alasan jelas, hati-hati kondisi ini bisa membuat si dia menjauh.
Bila Anda sering merasa cemburu, ini merupakan tanda Anda mengalami paranoia. Anda cenderung tidak rasional lagi. Tapi, jangan khawatir, Anda pasti mampu keluar dari masalah itu. Ikuti tips berikut ini untuk membantu menghentikan paranoia terhadap hubungan Anda, dikutip dari She Knows.
- Jujurlah tentang perasaan Anda
Daripada tersiksa sendirian karena memendam cemburu setiap hari, mengapa Anda tidak mencoba untuk membicarakan perasaan Anda dengan pasangan? Bukankah kejujuran kunci untuk mencapai hubungan yang sehat.
Biarkan pasangan tahu bila Anda ingin setia dan percaya sepenuhnya kepadanya. Dia mungkin sanggup membuat pikiran Anda tenang kembali jika dia tahu Anda ingin menghapus cemburu yang Anda rasakan.
- Cari tahu alasan cemburu
Tanyakan kepada diri sendiri mengapa Anda begitu cemburu dan takut kehilangan si dia. Apakah Anda punya pengalaman masa lalu yang buruk? Jika demikian, jangan biarkan masalah yang terjadi di masa lalu merusak kebahagiaan di masa sekarang.
Beritahu pasangan mengapa Anda punya masalah cemburu. Komunikasi yang baik akan membantu menangani masalah yang terjadi saat ini.
- Cobalah untuk santai
Hapus perasaan cemburu dengan melenyapkan kalimat-kalimat negatif yang memenuhi kepala. Anda harus mencoba untuk santai. Ini akan membantu Anda memulihkan perasaan dan pikiran. Percayalah, pasangan Anda tidak akan lari.
Percayalah, Anda sanggup mengendalikan kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan, kemudian mampu mengembangkan rasionalitas Anda. Bila ini sudah Anda capai, pasti hubungan di masa depan akan menyenangkan. (pet)

Libur Tahun Baru, Warga Serbu Tempat Wisata

Libur Tahun Baru, Warga Serbu Tempat Wisata
Jakarta (ANTARA News) - Warga ibukota maupun berbagai daerah di Indonesia menyerbu tempat wisata saat libur tahun baru 2011 pada Sabtu yang bersamaan dengan liburan sekolah.

Sejumlah objek wisata di Jakarta seperti Taman Impian Jaya Ancol di Jakarta Utara, Kebun Binatang Ragunan di Jakarta Selatan, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur, menjadi tujuan wisata masyarakat mengisi liburan.

Antre kendaraan menuju kawasan wisata Ancol pada Sabtu sudah mulai panjang sejak pagi hari sehingga membuat arus lalu lintas padat merayap. Kemacetan mulai terlihat di depan Hotel Aston, dimana beberapa petugas terlihat sibuk mengatur kelancaran kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Berbagai wahana di Ancol dipenuhi warga seperti di Gelanggang Samudra-Atlantis, Sea World, dan Dunia Fantasi dipadati pengunjung.

Hubungan Masyarakat Taman Impian Jaya Ancol, Sofia Cakti, di Jakarta, Sabtu, mengatakan, diperkirakan pengunjung pada Sabtu ini naik sedikit dibanding hari yang sama tahun lalu yang tercatat sebanyak 180.000 orang.

Pengelola Dunia Fantasi merespon banyaknya pengunjung dengan membuka pelayanan lebih panjang yaitu dari jam 10.00 - 20.00 WIB dibanding hari biasa yang mulai pukul 11.00 - 18.00 WIB.

Sementara itu, pengelola TMII memperkirakan jumlah pengunjung objek wisata itu pada saat libur tahun baru ini mencapai lebih dari 100.000 orang dibanding dengan pada saat lain termasuk lebaran yang hanya sekitar 30.000 orang.

"Jumlah pengunjung pada tahun baru ini kami perkirakan melebihi jumlah pengunjung saat "peak season" yang lain termasuk saat libur lebaran," kata Manajer Informasi TMII, J. Purnawijaya Alibasa.

Pada liburan tahun baru, pihaknya masih menawarkan wahana terbaru yakni Snow Bay yang selama ini terbukti menjadi favorit pengunjung TMII. Selain itu, beberapa wahana lain yang juga menjadi andalan adalah taman air tawar, PP Iptek, taman burung, kereta gantung, Keong Mas, hingga anjungan-anjungan dari berbagai provinsi.

Setiap anjungan juga menampilkan kesenian daerah masing-masing di antaranya anjungan Sumatera Barat menyajikan konser musik pop Minangkabau dan anjungan Jawa Timur menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk bersama dalang Ki Bambang Sugiyo dengan lakon Semar Sang Guru Maya.

Kunjungan warga ke Kebun Binatang Ragunan juga membludak saat liburan tahun baru. Tingginya minat masyarakat untuk berlibur di Kebun binatang Ragunan Jakarta Selatan di awal Tahun Baru 2011 mengakibatkan antrean yang memanjang baik kendaraan maupun pejalan kaki.

Kemacetan arus lalu lintas sudah terasa mulai perempatan Tanjung Barat karena arus lalulintas dari Jalan Margatsatwa yang menuju langsung ke Jalan Harsono RM dialihkan melalui Jalan TB Simatupang.

Berbagai daerah

Kawasan wisata di sejumlah daerah juga menjadi sasaran warga yang mengisi liburan tahun baru seperti di Malang, Yogyakarta, Magetan, Manado, dan Palembang.

Sejumlah kawasan wisata di wilayah Malang Raya (Kota dan Kabupaten Malang serta Kota Batu), Sabtu, dipadati pengunjung, bahkan ruas jalan menuju kawasan wisata tersebut macet total.

Di Magetan, jumlah pengunjung objek wisata di kawasan lereng Gunung Lawu, Telaga Sarangan, di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, pada libur Tahun Baru 2011 mencapai 12.000 orang per hari.

Kepala Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) Pos Retribusi Telaga Sarangan, Darmanto, Sabtu, mengatakan, jumlah tersebut tercatat sejak dua hari terakhir, yakni sehari menjelang pergantian tahun, dan hari pertama pada 2011.

Darmanto mengatakan para pengunjung yang datang ke Telaga Sarangan tidak hanya berasal dari Magetan saja, namun juga luar Magetan, seperti Madiun, Malang, Surabaya, dan beberapa kota besar di Jawa Tengah, Jakarta, dan Jawa Barat.

Sejumlah warga Manado juga memadati sejumlah objek wisata pantai pada liburan tahun baru 1 Januari 2011. Objek wisata pantai itu seperti Pantai Malalayang, Pantai Boulevard, dan Pantai Tasik Ria.

Warga Yogyakarta juga memadati objek wisata seperti Taman Pintar, Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka. Sekitar 15.000 orang diperkirakan memadati tempat wisata rekreasi edukasi di Yogyakarta, Taman Pintar pada libur Tahun Baru 2011, Sabtu.

"Jumlah itu adalah wisatawan yang membeli tiket untuk masuk ke sejumlah wahana, tetapi apabila ditambah dengan wisatawan yang hanya bermain di `playground`, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 18.000 orang," kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Kantor Pengelola Taman Pintar, Ita Ristanti.

Sementara jumlah pengunjung Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta diperkirakan mengalami peningkatan 100 persen lebih pada libur Tahun Baru 2011 sehingga menyebabkan kemacetan di Jalan Kusumanegara Kota Yogyakarta.

Manajer Marketing dan Pengembangan Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka, Dyah Tjondrokusumaningrum mengatakan, tidak menetapkan target jumlah kunjungan wisatawan ke kebun binatang tersebut selama libur akhir tahun.

"Setelah terjadi erupsi Gunung Merapi, jumlah pengunjung ke Gembira Loka mengalami penurunan yang cukup banyak, sehingga untuk saat ini, kami hanya akan mengikuti arus saja," katanya.

Ia mengatakan selama libur Natal hingga tahun baru, jumlah pengunjung ke Gembira Loka telah mencapai sekitar 60.000 orang. "Atau rata-rata sekitar 7.000-8.000 orang per harinya," katanya.

Warga Kota Palembang juga memanfaatkan liburan tahun baru 2011 dengan mengunjungi sejumlah kawasan wisata seperti Hutan Punti Kayu, Dunia Fantasi Island, water boom dan objek wisata di Kambang Iwak.
WISATA DI INDRAMAYU 
- pantai tirtamaya ( lombang, juntinyuat-indramayu )
    jl. raya indramayu -karangampel
- pantai pesisir balongan / bali (balongan indah) ( balongan, balongan-indramayu )
     depan pertamina UP VI balongan
- waterboom bojong ( bojong, indramayu )
- pantai eretan indramayu
COPYRIGHT © 2011

Psikolog: Ariel Bukan Seorang Eksibisionis

Sabtu, 01 Januari 2011

Ariel Peterpan
Setelah beberapa saksi ahli dihadirkan dalam sidang kasus video mesum mirip Ariel, kini giliran Zoya Amirin, seorang psikolog dari Universitas Indonesia, dihadirkan dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Bandung, minggu (02/01). Menurutnya, Ariel tak bisa digolongkan sebagai pria yang mengalami penyimpangan seksual (eksibisionis).
"Tapi untuk kasus Ariel, kalau dia seorang eksibisionis, dia tidak akan menunggu sekian lama untuk menyebarkan itu. Sedangkan Ariel di video itu baru tersebar setelah beberapa tahun, tidak akan mungkin selama itu. Dia pasti langsung ingin menyebarkannya, karena untuk seorang eksibisionis itu suatu kepuasan. Suatu orgasme mempertontonkan adegan seks atau bagian tubuh mereka. Berarti kan dia tidak mungkin menyebarkan dengan sengaja," kata Zoya kepada wartawan yang mewawancarainya usai sidang.
Zoya menegaskan bahwa Ariel tak mungkin sengaja menyebarkan perilaku seksnya sendiri, karena menurutnya Ariel tak masuk kategori yang menyimpang itu.
"Dia tidak mungkin dengan sengaja, kalau dia sengaja, pasti sekarang dia sudah senang-senang, dia sudah orgasme karena mempertontonkan atau menyebarkan adalah salah satu kepuasannya. Ini kan dia dalam keadaannya depresi, stress, malu," pungkasnya. (kpl/hen/bun)

Cara Kilat Tapi Berbahaya Demi Langsing

London (ANTARA News) - Demi memperoleh kesempatan kerja, para mahasiswa  di Xiamen, China, makan telur cacing gelang untuk mengurangi berat badan.  Persaingan kerja di China sangat ketat dan mereka berangggapan jika berbadan langsing maka peluang kerja lebih besar.

Telur-telur itu menetas di dalam perut dan memungkinkan mereka yang memakannya a kehilangan beberapa kilogram tanpa perlu berolah raga atau melakukan diet.

Tetapi, menelan cacing sangat berbahaya, dan pasti tidak disarankan bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan pada Tahun Baru.

Jumlah lapangan pekerjaan sebanyak 22 persen, dan jumlah pekerja meningkat sebanyak 112 juta orang selama dekade terakhir menjadi lebih dari satu miliar orang.

Cara lainnya adalah menatap foto selama berjam-jam untuk mengurangi nafsu makan mereka sehingga mereka bisa mengurangi berat badan.

Daily Mail melaporkan seorang pelajar bernama Xiaomei mengatakan bahwa para perempuan menggunakan "sabun spesial" yang akan membantu diet mereka. Beberapa di antara mereka mandi 10 kali setiap hari.  Cara itu tidak memiliki dasar ilmiah dan cenderung membahayakan kesehatan.

Pada tahun 1990-an para perempuan China akan mengonsumsi teh dan pil untuk menurunkan berat badan. Akupuntur juga muncul sebagai pilihan populer.

Masalah pekerjaan sebagian besar terbatas di daerah pedesaan. Pekerjaan-pekerjaan di kota-kota tercipta  dengan cepat karena China mengalami urbanisasi cepat.

"China menghadapi tekanan pekerjaan besar saat ini dan untuk masa mendatang," kata Yi Chengji, juru bicara Kementerian Sumber Daya Manusia dan Keamanan Sosial.

"Sebagaimana China mempercepat urbanisasi, tekanan pekerjaan dari banyak surplus para pekerja pedesaan lebih besar dan lebih besar. Saat ini ada kira-kira 100 juta surplus pekerja pedesaan yang perlu dialihkan ( ke pekerjaan perkotaan)."

Populasi di perkotaan akan meningkat lebih dari 700 juta orang tahun 2015, melampaui populasi pedesaan untuk pertama kalinya.

Berdasarkan kertas kerja, ada 9.21 juta pengangguran perkotaan terdaftar di China pada akhir 2009, hanya 4.3 persen tingkat pengangguran perkotaan.
(ENY/A038/BRT)
COPYRIGHT © 2011

Takut Heboh, Jupe Tak Jadi Tonton Leg Kedua Final Piala AFF

Kamis, 30 Desember 2010


JAKARTA-C&R/OMG-Banyak suporter timnas yang berharap ingin melihat langsung aksi dari artis Julia Perez (Jupe) yang ingin menunjukkan BH lasernya pada malam final Piala AFF antara Timnas Indonesia melawan Malaysia dengan skor 2-1 di Gelora Bung Karno, Rabu (29/12/2010) malam.
Namun, orang yang ditunggu-tunggu itu tak kunjung datang. Ketika dikonfirmasi, Jupe mengaku mengurungkan niatnya karena takut penonton justru heboh dengan aksinya.
"Aku nggak mau mencuri perhatian dari Tim Garuda, karena kan semua orang mau melihat bola. Nanti kalau aku datang dengan my laser bra, nanti malah pada melihat ke aku, tapi to be honest I realy want to do it. Aku ingin sekali melakukanya," ujarnya saat dihubungi, Kamis (30/12/2010).
Disinggung mengenai timnas yang gagal meraih juara. Jupe berpendapat, timnas tetap menjadi juara walau tanpa piala.
"Menurut aku, timnas kita sudah champion, the real champion. Timnas kalah cuma sekali dan itupun dicurangin. Selanjutnya, kan, nggak pernah kalah," tandasnya. (Ilman).

kumpulan novel

Senin, 04 Oktober 2010


CHAPTER 1:
KAMU BEDA DENGAN KAMI

Cerita khusus buat Dwi Andari Agustien — Sesungguhnya kaulah perempuan bidadari yang lahir atas nama cinta wangi!

"Cinta itu lucu.
Ia senantiasa memberikan rasa riang, senang,
dan bahagia pada insan yang tengah kasmaran."
(Effendy Wongso)


Hai, nama saya Fadli. Andi Fadli Rizal Pahlevi. Saya cowok Bugis tulen, tapi jablay — jarang dibelai. Hehehe, itu hanya plesetan dari kucing alias kuper-cinta, Cing! yang beda-beda tipis dengan jablay. Saya mahasiswa semester dua pada sebuah perguruan tinggi negeri jurusan ekonomi yang klop dengan hidup saya yang serba ekonomis alias bokek. Nah, itulah gambaran kecil tentang saya yang sebenarnya sedikit lebih tampan dari Justin Timberlake. Ya, saya sedikit lebih tampan dari dia, tapi dia jauh banyak lebih tampan dari saya! Saya belum pernah pacaran — makanya jablay. Tapi saya naksir seorang cewek teman satu kampus. Namanya, Kris Suryani. Heh, jangan ditanya! Dia itu perfect! Sempurna segala-galanya! Tapi sayang saya tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hati ini padanya....
***
Di kampus lagi sepi ketika saya iseng-iseng main ke kantin. Suasana di dalam kantin juga sepi. Tumben. Hanya terlihat satu-dua makhluk yang bernama manusia di sana. Selebihnya terlihat beberapa ekor makhluk berkaki empat atawa kucing. Biasanya juga satu-satunya tempat mangkal di kampus ini dipenuhi orang. Ramainya minta ampun.
"Fad...." Sepatah sapaan lembut menggugah saya dari pikiran yang mengambang. Saya toleh ke arah asal suara itu. Liar gerak bola mata bening saya menangkap sesosok makhluk manis lagi tersenyum manis, duduk santai di bangku panjang kantin.
"Eh... Kris, tumben ke sini?" sapa saya tergagap.
"Memangnya nggak boleh?"
Sejenak saya hanya mengumbar senyum padanya. Lalu bergegas saya melangkah, dan duduk di sampingnya.
"Boleh saja, Kris. Tapi...." Saya jawab sekenanya pertanyaannya dengan kalimat yang menggantung.
"Tapi apa?" Dia bertanya dengan raut wajah penasaran.
"Sungguh kamu nggak tahu?" jelas saya, menanyainya.
"He-eh." Dianggukkannya kepala keras sampai sebagian dari rambut legamnya yang sebahu menyentuh wajah saya.
"Apa kamu nggak minder ke tempat semacam ini? Bergaul, berkumpul bersama kami?"
"Apa maksudmu, Fad?!" Nanar pada bola matanya jelas memperlihatkan kemarahan.
Saya menunduk. Tidak berani menatap wajahnya. Sekilas ekor mata saya sempat menangkap bias cahaya yang terpancar dari matanya yang agak berkaca kini.
"Saya tahu apa yang ada dalam benakmu sekarang, Fadli!" tegasnya dengan nada suara getas. "Kamu khususnya, dan teman-teman umumnya, menganggap saya lain dari kalian. Benar begitu, kan?!"
Saya hanya diam, lama sekali, sampai akhirnya Kris bangkit dan berlalu begitu saja dari kantin ini.
"Kris...!" Saya menjerit parau memanggil namanya. Ada semilir penyesalan yang merayap membaluti hati atas kejadian tadi. Saya sungguh menyesal.
"Kris... tunggu... kamu belum mendengarkan penjelasan saya!" Sekali lagi saya menjerit memanggilnya. Namun dia telah hilang dari hadapan saya.
Saya merasa sangat bersalah telah menyinggung perasaannya. Sementara dalam keterpakuan saya di kantin ini, beberapa mahasiswa yang lagi sarapan di meja sebelah, juga pemilik kantin ini, memandang dengan terheran-heran. Terbengong.
Kris Suryani, begitulah nama gadis manis itu, seorang mahasiswi semester dua fakultas ekonomi, teman sekelas saya. Dia sekaligus mahasiswi teladan di kampus kami. Sebagai seorang gadis yang terbilang kaya-raya, tentulah dia dengan sendirinya telah berbeda dengan kami. Apalagi ditambah dengan otaknya yang brilian — atau kelebihan lain yang dimilikinya, jelaslah semakin menciptakan jarak perbedaan tersebut.
Dan di situlah biangnya, kami acapkali menilai dia tidak pantas bergaul dengan kami yang kere. Kami lalu sengaja menghindar, menjauhi, bahkan cenderung bersikap memusuhinya. Padahal sebenarnya dia adalah gadis yang bersahaja dan santun. Kesederhanaan selalu menyertai tindaknya, baik saat di kampus maupun


CHAPTER 2:
KE RUMAH CINTA


"Kamu cemburu, Fad," kata Mama setelah sesaat saya ceritakan perihal Kris padanya.
"Cemburu? Hei, memangnya saya ini apanya, Ma?"
Lha, kok saya merasa kata Mama barusan....
"Nah, nah, lamunin dia lagi kan?" goda Mama.
"Ah, Mama ada-ada saja!" Saya pura-pura sewot.
"Tapi, Mama setuju kok," kata Mama lagi. "Habis, orangnya baik sih. Mana cakep lagi."
"Memang Mama pernah lihat Kris?"
Mama tersenyum. "Hm, belum sih. Tapi, Mama yakin dia pasti cantik karena kamu yang memilih...."
Saya mengibaskan Mama. "Ah, Mama! Sok tahu saja, nih!"
"Ya, sudah. Begini saja, Fad," Mama merengkuh pundak saya, dan membisiki sesuatu. "Mama kasih solusi. Sebentar malam kamu ke rumahnya saja. Minta maaf padanya, sekalian bermalam Minggu-an."
Saya membelalakkan mata. "Uh, Mama dimintai pendapat kok jawabnya yang nggak-nggak, sih?!"
Saya beranjak dari ruang makan dengan langkah gegas, meninggalkan Mama yang cekikikan kayak kuntilanak sehabis mempermainkan putranya. Ngasih saran kok yang....
Tapi, hei... solusi Mama boleh juga. Bukankah saya telah menyakiti hati gadis itu di kantin siang tadi? Mungkin Mama benar kalau seharusnya saya memang patut minta maaf dan bermalam Minggu....
What?! Bermalam Minggu?! Hei, saya kan bukan pacarnya? Punya hak apa saya bermalam Minggu dengan Kris Suryani yang berwajah secantik bidadari itu? Tidak, ah! Nanti saya dibilangin 'pungguk merindukan bulan' lagi! Tapi... kalau tidak minta maaf, bagaimana saya dapat menebus kesalahan saya padanya?
Tapi sudahlah. Lebih baik saya menuruti solusi 'spektakuler' yang disarankan Mama. Bagaimana tidak, setelah sekian lama tadi terombang-ambing dalam arus penyesalan, tiba-tiba Mama membuka jalan buntu di benak saya. Ah, sungguh beruntung hidup saya karena punya Mama gaul nan bijak.
Saya menghentikan langkah di bawah bingkai pintu ruang makan, membalik badan dan bertanya. "Mama kok tahu Si Kris?"
"O, itu?" bibir Mama mengoval. Mengeja 'O' tadi dengan nada tengil.
"He-eh," gumam saya perlahan, hampir-hampir tidak jelas di telinga saya sendiri.
"Tentu saja Mama tahu, Anak Manis." Sekali lagi Mama mengedipkan matanya. "Kris kan, putrinya Pak Rukmana Tedjakusuma, atasan Papamu di kantor."
"O, pantas Mama tahu." Giliran bibir saya yang mengoval.
"Ya, tahu dong!" Mama mengangkat dagunya pongah. "Kan kamu juga yang sering cerita? Heh, lupa ya?"
"Iya, iya. Mama sok tahu, deh," rutuk saya mencibir, menutupi kekikukan akibat ledekan Mama.
"Eh, Fad, jangan lupa ya, sebentar malam pakai parfum yang paling wangi. Bajunya yang paling bagus dan rapi, ya?" teriak Mama ketika langkah saya sudah terseret sampai di bawah bingkai pintu kamar. "Fad, kalau perlu Mama bantu setrikain baju kamu, ya?"
Sedetik saya hentikan langkah. Namun pada detik berikutnya saya melanjutkan langkah, dan pura-pura tidak mendengarkan gurauan Mama tadi. Terus saja masuk dalam kamar, dan menguncinya dari dalam. Di belakang daun pintu kamar, saya menengadah. Tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. Mama memang masih kolokan. Hei, barangkali pingin cepat menimang cucu!
***

CHAPTER 3:
KENCAN


"Astaga!"
Saya bergumam kaget. Jam dinding yang tergantung di dinding kiri kamar saya telah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Sialan! Kenapa saya bisa sampai ketiduran begini? Mana belum mandi dan belum makan lagi!" gerutu saya.
Tergesa saya sambar handuk yang tergantung di cantelan belakang pintu kamar. Tanpa berbasa-basi lagi seperti biasa, bersiul dan bernyanyi-nyanyi kecil, saya langsung saja 'bar-bur-bar-bur'.
Beberapa menit kemudian, mandi dan dandan kilat selesailah sudah.
"Pa, Mama ke mana sih?" tanya saya pada Papa yang sedang duduk santai membaca koran di ruang tamu.
"Kan sedang arisan sama ibu-ibu karyawan kantor." Papa menjawab tanpa mengangkat mukanya. Kepalanya masih tenggelam di antara lebar lembar kertas koran.
Ah, pantas saja saya nggak dibangunin, habis Mama lagi pergi sih! Saya jangkau helm yang terletak di bawah meja ruang tamu.
"Pa, saya pakai sepeda motor, ya?" pinta saya.
"He-eh." Sekali lagi Papa menjawab tanpa mengangkat muka.
Bagai dikejar genderuwo, saya sambar juga kunci kontak sepeda motor yang terletak di samping rokok Papa. Dengan setengah berlari, saya keluar dari pekarangan. Menuju ke tempat biasa, dimana sepeda motor itu terparkir.
"Fad, Fadli... hati-hati, ya?" Papa masih sempat menasehati saya ketika sepeda motor tua ini saya hidupkan. Tapi kalinya ini kepalanya sudah nongol menengok ke arah saya.
Belum lagi saya keluar dari pekarangan rumah, Papa sudah teriak-teriak lagi.
"Eh, Fad! Kamu kan belum makan?"
Saya tancap gas dalam-dalam seraya berteriak. "Sebentar saja makannya, Pa! Dadah!"
Sekilas saya lihat Papa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras. Selebihnya sepeda motor tua ini meraung-raung persis bebek yang lagi keinjak.
Dan karena mesinnya yang sudah payah, asap yang keluar dari knalpotnya persis dry-ice yang biasa dipakai dalam ngilustrasi asap atau halimun dalam show di panggung atau televisi. Tapi sayangnya dry-ice yang dihasilkan knlpot sepeda motor tua saya ini lain daripada yang lain. Kalau yang biasa kita lihat adalah putih-bersih, nah kalau sepeda motor tua saya ini dry-ice-nya hitam-legam. Tapi peduli amat, saya mesti buruan. Masa sih berkencan di rumah cewek jam dua belas malam, ih amit-amit jabang baby, deh! Bukan kenapa, mungkin sehabis kencan muka ini bisa bentol-benjol kena timpuk bogem mentah babenya! pikir saya geli.
Lha, sejak kapan saya kencan dengan Kris? Sejak kapan saya pacaran sama cewek manis itu? Sejak kapan saya merasa inilah first date....
Ah, ah! Saya kok jadi linglung dan bingung sendiri?! Ups! Ini juga karena Mama! Ini karena Mama ngebet pingin menimang cucu. Bah!
Sementara saya terombang dalam arus pikiran sendiri, saya mengerem sepeda motor ini mendadak. Traffic-light sedang menyala merah.
Uh, sial!
Bisa-bisa saya kemalaman baru dapat sampai ke rumah doi! umpat saya kesal. Dan, huh! Semua mata yang berseliweran di pinggir jalan telah terlanjur menatap saya yang tengah duduk gelisah di atas sepeda motor butut ini!
Seperti terhipnotis oleh sebuah sulap!
Aduh, mamamia! Malunya hati ini. Ini juga gara-gara ban sepeda motor yang sudah botak-plontos persis donat. Hasilnya ya, itu. Kalau ada pengereman mendadak, bunyinya nyaring seperti suara tikus yang kejepit perangkap jepit.
Saya pura-pura cuek. Memandang lurus ke depan. Beberapa orang di pinggir trotoar berbisik-bisik menanggapi sepeda motor butut saya ini. Mungkin mereka heran karena sepeda motor serongsok ini masih dapat diajak kompromi. Padahal seharusnya sudah dikiloin pada pemulung besi tua!
Saya masih ngedumel pada lampu yang belum berubah warna, ketika mendadak pendengaran saya menangkap jelas suara serupa bisik-bisik. Seorang ibu gembrot dengan anak gadisnya.
"Motor itu mungkin BBM-nya dari minyak tanah, ya? Kok asapnya rame banget!"
Saya tersinggung. Hendak mempelototi ibu gembrot tadi, tapi keburu lampu hijau sudah menyala. Saya segera tancap gas dalam-dalam, dan melaju dengan cepat lagi.
Huh! Enak saja dia bilang sepeda motor saya ini pakai BBM minyak tanah. Kalau tadi masih lama di sana, pasti deh si Gembrot itu bilang minyak pelumasnya bukan dari oli, tapi minyak kelapa! maki saya kesal.
***

CHAPTER 4:
GETAR CINTA


Tiba di kompleks perumahan mewah Panakkukang Mas, saya memperlambat laju sepeda motor ini. Mencari rumah Kris. Beberapa kali saya berputar-putar sekitar kompleks, sampai hampir berputus asa. Sebelumnya memang saya tidak pernah ke rumah Kris. Informasi yang saya dapat mengenai alamat rumah Kris misalnya, atau hal-hal yang berbau privacy, saya dapat dari Shinta, sahabat karibnya sekaligus sahabat saya sewaktu di SMA. Tentu saja tidak mudah mengorek keterangan dari gadis bertitel matre itu. Ada imbal balas jasa yang mesti saya penuhi agar data valid Kris dapat saya akses dengan mulus. Semangkuk bakso dan teh botol di kantin kampus akhirnya jadi pilihan yang mau tidak mau harus saya sodorkan sebagai imbal barter. Cingcailah!
Kita lanjut ke alur terkini.
Akhirnya saya temukan juga rumah yang saya tuju. Di atas bingkai pintu rumah yang bercat putih-bersih itu, terpampang sebuah papan nama yang bertuliskan nama 'Ir. Rukmana Tedjakusuma'.
Pasti ini! Tidak salah lagi!
Heh, bukan apa-apa sebenarnya. Saya sudah banyak terkibul oleh titel yang melekat di depan nama seseorang. Sewaktu mencari dosen saya suatu saat dulu, saya pernah terkecoh oleh titel serupa. Waktu itu saya mencari nama dosen saya yang bernama Ir. Rustam Amirullah. Namun entah, saya salah masuk gang, dan jauh dari kompleks dosen Tamalanrea — alamat yang saya tuju. Saya menemukan nama serupa nama dosen saya. Ir. Rustam, B.Sc. di kompleks yang salah saya sasari. Ketika saya dengan pedenya masuk ke rumah separo gubuk itu, barulah saya tersadar kalau titel yang melekat di depan dan belakang nama 'Rustam' itu bukan titel gelar disiplin ilmu. Tapi Ir. yang merupakan singkatan 'Ini rumah' dan B.Sc. yang merupakan singkatan 'Bekas Supir camat'!
Pufh! Asal!
"Hehehe... nggak salah kan, Dik!" tuturnya enteng ketika saya pangling. "Saya memang bekas supir camat! Dan, ini memang rumah saya!"
Iya, iya. Tapi sekalian saja Bapak pakai gelar MBA! Married by Accident! gerutuku ketika itu — tapi tentu saja dalam hati. Habis, sudah nyasar eh ketemu pula orang gokil begitu!
Kita lanjut ke alur terkini.
Ini rumah Ir. Rukmana Tedjakusuma. Insinyur beneran ayahnya Kris Suryani. Dan saya telah memasuki pekarangan rumahnya dengan dada yang berdebar. Tentu saja setelah memarkir si Butut sepeda motor bebek tua saya jauh-jauh dari pekarangan rumah bagus ini! Sori, bukan karena saya tidak menghargai jasa-jasa si Butut dari zaman baheula sampai sekarang — jelek-jelek begitu si Butut adalah veteran Perang Dunia Pertama, maksudnya motor bebek keluaran pertama! Bukan. Tapi sungguh dia tidak sebanding dengan gemerlap yang dipancarkan oleh rumah mewah ini yang tengah terparkir sebuah BMW keluaran terbaru. Sebenarnya si Butut juga itu dulunya BMW. Hihihi... Bebek Merah Warnanya sebelum ganti warna cat menjadi hijau!
Dan sekarang saya sudah di depan pintu rumahnya. Mematung dengan tangan kanan yang masih tergantung di udara dalam gaya hendak mengetuk. Waktu di pergelangan tangan kiri saya telah menunjukkan pukul delapan lebih limabelas menit. Saya kemalaman. Ini bukan kesan pertama yang baik. Ini bukan tanggapan yang baik dari kedua bokap-nyokapnya nanti. Tapi saya sudah berdiri di sini! Masakah saya harus mundur pulang?! Heh, jangan-jangan bila saya mundur pulang kesempatan untuk bertemu secara personal dengan dia tidak pernah akan datang lagi seumur hidup saya?!
Ups! Saya gamang! Ini pilihan tersulit dalam seumur hidup saya!
***

CHAPTER 5:
DI RUMAH CINTA


Saya masih berdiri terpaku. Saya ragu, jangan-jangan kehadiran saya dianggap mengganggu mereka. Hei, ini kan malam Minggu? Barangkali saya Kris lagi diapelin oleh cowok lain. Habis, mobil BMW yang terparkir di halaman rumah itu punya siapa? Mungkin pacarnya Si Kris. Kalau mobil Bokap-Nyokap dia kan pasti sudah masuk garasi. Sepertinya mobil si Jangkung....
Hm, itu memang mobil gebetan Kris....
Saya hela napas kuat-kuat untuk menghimpun keberanian. Huh, peduli amat Kris diapelin oleh siapa, selama 'janur kuning' belum berkibar, boleh dong saya berusaha menggaet hatinya? Semua manusia kan sama status dan derajatnya di mata Tuhan. Jadi, saya yang kere ini jangan mau kalah dengan anak konglomerat!
Mata saya menjangkau beberapa anyelir juga anggrek yang tertata rapi di depan serambi. Ada sebuah kolam kecil di tengah-tengah taman yang ditata apik ketika saya alihkan edaran mata saya ke tempat lain. Di tengah kolam itu sendiri terdapat sebuah pancuran air yang berbentuk patung putri duyung. Indah sekali. Segalanya tampak asri dan natural. Hm, siapapun yang merancang semua itu pastilah memiliki sentuhan rasa seni yang tinggi. Atau paling tidak, yang merancang semua itu pastilah salah satu arsitek terkemuka. Suatu saat saya pingin punya rumah dan taman seperti itu! pikir saya ngelantur. Heh, tentu saja kalau saya sudah jadi kaya!
Tok-tok-tok!
Tanpa sadar saya mengetuk pintu tiga kali!
Oups!
Sungguh, saya tidak benar-benar mau melakukan itu. Tapi entah kekuatan gaib dari mana yang menggerakkan tangan kanan saya hingga mendarat di daun pintu dari bahan kayu jati bagus tersebut.
Saya dengar ada langkah sandal yang terseret. Terlambat untuk menyesali tindakan saya itu. Namun saya jadi sedikit lega. Pasrah saja. Saya siap menanggung segala kekecewaan bila ternyata Si Kris memang lagi kencan sama seseorang — yang dalam pikiran saya tentu saja lebih baik segala-galanya dari saya.
"Cari siapa ya, Kak?" sapa kecil khas bocah melantun begitu daun pintu terkuak.
Saya masih nervous. "Eh, uh, bisa ketemu dengan Kris?"
"Oh, Mbak Kris? Mbak Kris-nya ada di dalam tuh!" ujarnya dengan mimik lucu. Bola matanya hitam bening, persis punya Kris. Rambutnya dikepang dua berpita pink.
"Boleh saya...." Kalimat saya terputus ketika sesosok yang sudah tidak asing lagi di mata saya keluar dari ruang dalam.
"Tika, yang datang siapa?" tanyanya pada gadis kecil yang dipanggil Tika tadi. "Suruh masuk dulu, deh."
Sedetik kemudian mata kami sudah bertumbukan. Mendadak tubuh saya seakan mengejang. Sungguh, saya terpana melihat sosok lampai yang terbungkus dalam gaun katun hitam-hitam itu. Tampak anggun sekali.
"Eh, Fadli...." sapa Kris dengan roman muka yang jelas menggambarkan keheranannya. Senyumnya tersungging secara spontan tanpa dibuat-buat.
"Ma-malam, Kris...."
"Eh, kok berdiri saja kayak patung?" celotehnya bergurau. "Mari masuk, duduk deh."
Saya masuk dalam langkah hati-hati. Dada saya masih menggemuruh. Asli dia cantik sekali malam ini!
"Mimpi apa saya semalam kamu datang malam ini?" sambungnya lagi, masih dihiasi senyum manis.
"Eh, uh, ng-nggak mimpi apa-apa...."
Oups! Saya ngelantur. Linglung. Tapi cepat-cepat saya bilang, "Eh, sori ya, Kris. Mungkin saya mengganggu kamu dengan kedatangan saya yang tanpa permisi ini."
"Oh, nggak-nggak! Justru saya senang, karena kamu bisa temenin saya. Soalnya Papi-Mami lagi ke kondangan," akunya ceria.
Saya terdiam dan tertunduk. Kembali mata saya hanya dapat bergerak bebas memandang seisi ruangan rumah Kris. Di dinding tergantung lukisan besar berbingkai emas sepasang suami-istri, yang pasti adalah Papi-Mami Kris. Juga di dinding-dinding sebelahnya tergantung lukisan reproduksi Monalisa karya Leonarda da Vinci, lukisan-lukisan para pelukis abad mediterania semacam Rembrandt, dan sebuah lukisan potret diri Van Gogh. Di samping sisi dinding kiri-kanan terletak dua-tiga guci besar. Entah asli, entah palsu. Yang pasti guci tersebut bergraver naga atau ular. Sangat indah. Keramik dan patung-patung porselin lain tersusun rapi di atas dan di dalam sebuah lemari kayu besar. Semuanya antik dan kuno. Keluarga Kris rupanya peminat dan pemerhati barang-barang yang bernilai seni. Paling tidak, mereka punya citarasa seni yang jempolan. Itu telah menunjukkan dari kalangan mana mereka berada.
***

CHAPTER 6:
JANGAN BEDAKAN AKU


 Saya masih duduk seperti patung di sofa rumah Kris Suryani.
"Eh, Fad. Sori ya, mengenai kejadian siang tadi. Soalnya saya terlalu emosional sih!" Kris membuyarkan lamunan saya dengan permohonan maafnya.
"Justru, sayalah yang seharusnya minta maaf sama kamu, Kris!" sergah saya dengan nada bersalah. Saya jadi malu sendiri bila mengingat kejadian tadi siang di kantin kampus.
Sejenak Kris mengalihkan pembicaraan kami dengan memanggil Tika, adiknya.
"Tika, suruh Bik Sumi buatkan dua gelas minuman, ya? Eh, Fad, kamu mau minum apa?"
Saya risih. "Nggak usah, Kris...."
"Nggak apa-apa lagi." Kris tersenyum. "Masa sih tamunya dibiarkan kering."
"Apa saja, deh."
Kris mengaba pada Tika yang bersender di bahunya. "Kalau begitu, teh saja ya? Tik, bilangin ke Bik Sumi, seduhin dua gelas teh untuk Mbak, ya?"
Tika mengangguk lantas berlari ke ruang dalam.
Beberapa detik kami kembali membisu.
"Kris, mengenai kejadian siang...." Kris mengibaskan tangannya, sontak membungkam kalimat saya yang belum rampung.
"Sstt... sudahlah, Fad!" sahutnya sembari menempelkan jari telunjuk di bibir tipisnya. "Lupakanlah kejadian siang tadi, oke?"
Saya mengangguk. Lalu menunduk lagi. Saya hanya melirik sekilas ke arahnya.
Kris nampak menghela napas panjang.
"Fad, saya sadar, sebagai seorang gadis yang tumbuh di dalam keluarga yang berada, tentulah saya nggak terlepas dari segala kemewahan dan kemudahan fasilitas yang diberikan oleh orangtua saya." Kris mengungkap serupa curhat. Dan dia jeda tiga detik menelan ludahnya.
Saya turut menelan ludah.
Tiba-tiba ada rasa iba yang mengajuk hati saya di dalam sesal yang berkepanjangan.
Pembedaan yang telah kami ciptakan ternyata sangat menyiksanya.
Kami memang telah berdosa padanya!
"Itu nggak dapat saya pungkiri. Itulah kenyataan yang harus saya terima. Heh, sebenarnya bukan kenyataan ya? Tapi anugerah! Itu adalah anugerah yang bagi kebanyakan orang dinilai sebagai sesuatu hal yang menyenangkan. Mau ini, ada. Mau itu, tersedia. Wah, pokoknya glamor!" ungkapnya melanjutkan dengan wajah serius.
Saya masih takzim menyimak. Hanya sesekali melirik mimiknya yang agak mengguratkan kesedihan.
"Tapi saya sadar, semua materi itu hanyalah bersifat sementara. Nggak langgeng dan abadi. Yang pasti, nggak menjamin seseorang bisa berbahagia. Semua harta-benda itu adalah milik orangtua saya, yang didapat dari usaha dan kerja keras. Itu adalah rezeki kami dari Allah, Fad. Kapan saja materi itu dapat hilang jika Allah menghendaki-Nya. Jadi, kekayaan itu bagi saya merupakan anugerah yang, tentu saja patut kami syukuri. Bukannya malah sebaliknya. Menjadi media status dan strata pembeda manusia dengan manusia lainnya. Jadi, kami menyikapi keadaan mapan keluarga kami ini dengan biasa-biasa saja. Justru saya heran, kalianlah yang membedakan kami...."
Saya tercenung mendengarkan penjelasan Kris.
"Nah, jadi sekarang saya mohon, tolong kalian jangan membedakan saya lagi," pinta Kris penuh harap. "Karena pada prinsipnya, sesungguhnya sejak saya lahir dari rahim Mami atau bahkan kelak terkubur dalam tanah, saya nggak membawa bekal apa-apa selain amal kebajikan!"
Saya terpukau, dan sama sekali jauh dari prasangka saya yang dulu sehingga menciptakan jarak dengan gadis kaya tersebut.
***

CHAPTER 7:
KETIKA BAYANG CINTA MENARI


Saya masih duduk tepekur di sofa rumah Kris.
Kalimat-kalimatnya barusan menohok dada saya dalam ketersimaan. Dia memang bukan gadis biasa. Dia adalah segelintir di antara gadis biasa. Mungkin, mungkin dalam hidup saya tak akan pernah saya jumpai lagi gadis semenawan Kris. Dia memang gadis yang berpekerti baik!
"Saya simpatik...."
Oups! Nyaris saya tampar pipi saya sendiri. Saya kelepasan ngomong.
"Ada apa, Fad?" Kris sempat dengar. Dia bertanya.
Wajah saya memerah. "Oh, nggak apa-apa kok, Kris!" dusta saya.
"Oya, tadi sore saya telah bicara baik-baik dengan Papi-Mami. Mulai Senin besok, saya nggak mau diantar-jemput lagi sama Mas Agus. Saya akan pergi ke kampus sendiri. Pulang juga. Hm, enakan naik angkot ya? Sepertinya, nggak usah ngerepotin siapa-siapa. Lagian, kasihan Mas Agus-nya. Selain ngerepotin karena sudah menyita banyak waktunya, dia juga bakal susah dapat cewek. Kalau terus-terusan saya nebeng dia, jangan-jangan saya malah dianggap pacar Mas Agus. Cewek-cewek pada mundur kalau mau naksir dia. Padahal, saya kan sepupunya doang! Bukan pacarnya!" Kris tertawa. Matanya mendelik lucu.
"Ja-jadi... si Jangkung itu?!" Saya terlonjak kaget.
"Namanya, Agus Prawiranegara. Dia kakak misan saya, Fadli." Kris menjelaskan. "Jadi, bukan pacar saya. Hehehe. Kamu terkecoh juga, kan?"
"Oh, kirain. Mumpung...."
Kris mengernyitkan alisnya. "Mumpung apa, Fad?"
"Eh, uh, ng-nggak ada apa-apa, Kris!" Penyakit gumamam tanpa sadar saya kumat lagi! Rasa-rasanya saya ingin menampar pipi saya dengan sungguh-sungguh. "Oh, jadi si Jang... eh, Si Agus itu adalah kakak misan kamu, ya?"
"He-eh," angguk Kris mengiyakan. "Memangnya kenapa?"
Entah, hati saya jadi kacau tidak menentu. Jantung saya berdegup bagai beduk yang ditabuh bertalu-talu.
"Ka-kalau begitu... sa-saya masih...."
Saya tergagap. Antara bingung dan bego!
"Yang kalem dong bicaranya, Fad. Jangan gugup begitu. Hei, kamu nggak sedang dikejar utang, kan?" Kris mengurai kalimat gurau.
"Kris, sa-saya suka sama kamu!"
Bruukk!
Astaga!
Saya merasa seperti ada yang melompat keluar dari balik dada saya!
Entah kekuatan gaib dari mana yang mendorong bibir saya menggetarkan kalimat tadi! Rasanya saya lebih memilih mati di tempat saat ini juga! Ya, saat ini juga!
Kris menundukkan kepalanya. Dia terdiam lama. Lama sekali. Saya sekarang tidak berani memandang wajahnya meski hanya dalam satu lirikan!
Saya malu! Tidak pantas saya yang miskin ini mengucapkan kalimat suka itu padanya! Tidak pantas! Dia terlalu sempurna bagi saya. Terlalu sempurna!
Saya beranjak. Segera. Selekas mungkin. Saya memang tidak pantas berada di hadapannya kini! Sungguh, sungguh saya terlalu lancang mengungkapkan perasaan cinta padanya! Sungguh....
"Kris, maafkan saya! Saya terlalu lancang! Nggak pantas saya ucapkan kalimat itu tadi pada kamu!" tutur saya lunglai, melangkah keluar dengan persendian serasa ngilu.
Saya malu!
Saya beranjak meninggalkan rumah Kris.
Namun langkah saya terhenti pada tindak ketiga di serambi rumahnya kala dia menerobos keluar dari bingkai pintu.
"Saya juga cinta kamu, Fadli!" teriaknya. Berjalan mendekat ke arah saya.
Bruukk!
Kali ini ada yang menggemuruh di balik dada saya, dan sesaat kemudian saya serasa terbang tak menginjak tanah! Saya tidak percaya dengan pendengaran saya sendiri. Jiwa saya sudah mengambang ke awan-awan nan putih di langit. Terus melanglang di antara kumpulan gemintang yang tengah bersinar indah!
"Sungguhkah itu, Kris?!"
"He-eh." Angguk Kris yakin. "Sedari dulu, saya memang suka kamu, Fadli! Tapi, selalu ada jarak yang kamu ciptakan setiap saya hendak pedekate. Saya sempat kecewa, dan patah hati!"
Spontan saya rengkuh tubuh lampai itu ke dalam pelukan. Gadis itu tersenyum bahagia, merebahkan kepalanya di bahu saya.
Dalam suasana mesra, tiba-tiba kami dikejutkan oleh celoteh gadis kecil Tika, yang saat itu keluar mengantar minuman bersama Bik Sumi.
"Iiiih... Mbak Kris pacaran, Mbak Kris pacaran...." Tika melonjat kegirangan sambil bertepuk-tepuk tangan.
Tergesa kami melepaskan pelukan dengan rona wajah memerah. Dan pada detik berikutnya, tawa kami pun berderai. ©

TAMAT
 :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

http://thefilterband.blogspot.com/
WUJUDKAN MOTO INDRAMAYU REMAJA ( RELIGIUS MAJU MANDIRI DAN SEJAHTERA ) 

GOOOOO !!!!!!!!!!!! INDRAMAYU .......


download jamrud-selamat-ultah

Sabtu, 18 September 2010


 
Copyright 2010 GAYA HIDUP. All rights reserved.
Themes by Ex Templates Blogger Templates - Home Recordings - Studio Rekaman